Posted by: hendromuntarjo | January 17, 2008

Beauveria bassiana pengendali hama tanaman

Untuk menyambung kembali
mata rantai keseimbangan
alam pada ekosistem pertanian
yang sempat hilang karena penanganan
hama yang tidak ramah
lingkungan, pemerintah mengembangkan
konsep pengendalian hama
terpadu (PHT) yang berwawasan
lingkungan. Pada konsep pengendalian
ini, pestisida masih dapat
digunakan untuk mengendalikan
hama, tetapi penggunaannya dibatasi
hanya pada saat serangan hama
tidak dapat ditoleransi lagi atau
yang disebut dengan batas ambang
ekonomi. Pengendalian hama diutamakan
dilakukan secara biologis
dengan menggunakan musuh alami.
Musuh alami dapat berupa predator,
parasitoid atau patogen. Predator
adalah serangga pemangsa
hama. Umumnya predator memiliki
tubuh yang lebih besar daripada
serangga yang dimangsanya. Parasitoid
adalah serangga yang menjadi
parasit pada serangga lain.
Parasitoid memiliki tubuh yang lebih
kecil dari mangsanya, dan dapat
hidup di dalam telur, di luar atau di
dalam larva maupun imago serangga.
Patogen adalah organisme yang
dapat menimbulkan penyakit. Patogen
dapat berupa cendawan/
jamur, bakteri, virus, dan lain-lain.
Cendawan patogen tumbuh pada
permukaan tubuh serangga dan dapat
masuk ke dalam tubuh serangga
melalui bagian tubuh yang paling
mudah ditembus, seperti membran
antarruas dan lubang alami pada
tubuh serangga seperti spirakel,
mulut, dan anus.
Beberapa patogen dari jenis
cendawan yang digunakan untuk
mengendalikan hama adalah Beauveria
bassiana, Metarhizium anisopliae,
dan Spicaria sp. B. bassiana
banyak digunakan dalam pengendalian
hama penggerek buah kopi
(Hyphotenemus hampei), kepik
pengisap pada teh dan kakao (Helopeltis
sp.), ulat pada tongkol jagung
(Hebothis sp.) dan lain-lain. M.
anisopliae digunakan untuk mengendalikan
kumbang kelapa (Oryctes
sp.), sedangkan Spicaria sp.
untuk kepik pengisap pada teh dan
kakao.
B. bassiana merupakan cendawan
entomopatogen, yaitu cendawan
yang dapat menimbulkan penyakit
pada serangga. Secara garis
besar, cendawan terdiri atas hifa
dan konidia. Hifa berupa benang
halus, sedangkan konidia berupa
butiran yang berukuran mikroskopis.
Dalam jumlah banyak, hifa dan
konidia dapat dilihat dengan mata
telanjang. Hifa B. bassiana dapat
masuk ke dalam tubuh serangga
dan berkembang di dalamnya kemudian
merusak saluran makanan
serta sistem pernafasan sehingga
menyebabkan kematian. Pada keadaan
lingkungan yang mendukung
perkembangan cendawan, bagian
luar tubuh serangga yang terserang
B. bassiana akan dipenuhi oleh hifa
dan konidia yang berwarna putih.
Konidia yang berukuran sangat kecil
dan ringan siap untuk berpindah
dan menginfeksi serangga lain dengan
bantuan angin, air atau serangga.
Efektivitas B. bassiana dalam
mengendalikan hama banyak mendapat
perhatian dari berbagai institusi
penelitian. Berdasarkan informasi,
hampir seluruh propinsi penghasil
kopi di Indonesia telah menggunakannya
untuk mengendalikan
hama penggerek buah kopi. Di Balai
Penelitian Tanaman Hias, penelitian
B. bassiana dilakukan untuk menguji
efektivitasnya maupun mencari
formulasi yang tepat agar mudah
didistribusikan dan diaplikasikan
dengan harga yang terjangkau.
Pembuatan Isolat Murni
B. bassiana
Cendawan B. bassiana dapat diisolasi
dari serangga yang terinfeksi.
Serangga yang terinfeksi
oleh cendawan tersebut mudah dikenali.
Tubuhnya menjadi putih karena
tertutup oleh kumpulan hifa
dan konidia B. bassiana.
Pembuatan isolat murni B.
bassiana diawali dengan membuat
media biakan. Media yang digunakan
dapat berbentuk padat ataupun
cair. Masing-masing media mempunyai
kelebihan dan kekurangan.
Bila menggunakan media padat, setelah
penanaman atau pemindahan
(isolasi) cendawan tidak diperlukan
alat bantu lain, sedangkan bila
menggunakan media cair dibutuhkan
meja penggoyang (shaker).
Media cair menghasilkan populasi
konidia B. bassiana lebih banyak
dan lebih cepat dibanding media
padat. Namun bahan-bahan untuk
membuat media cair lebih sulit
diperoleh dan harganya lebih mahal
daripada media padat.
Bahan yang dibutuhkan untuk
membuat satu liter media padat
(media agar kentang dekstrosa)
adalah air suling (akuades) satu
liter, kentang 200 g, dekstrosa
(gula) 20 g, dan agar 15 g. Kentang
dikupas dan dicuci hingga bersih,
kemudian dipotong kecil-kecil.
Selanjutnya potongan-potongan
kentang direbus dalam akuades
untuk mendapatkan ekstraknya.
Bila air rebusan telah keruh, potongan
kentang dipisahkan dari air
dengan cara menyaringnya. Bila air
rebusan kurang dari satu liter dapat
ditambahkan akuades hingga
volume air menjadi satu liter. Air
rebusan lalu dididihkan dan ditambah
dekstrosa dan agar, kemudian
dimasak hingga agar larut. Media
lalu dimasukkan ke dalam botol
bersih berukuran 100 ml dan ditutup
rapat. Botol-botol berisi media lalu
dimasukkan ke dalam panci bertekanan
atau dandang untuk sterilisasi.
Waktu yang diperlukan untuk
Cendawan B. bassiana dapat digunakan sebagai pengendali hama
tanaman. Selain efektif, pengendalian secara biologis juga
ramah lingkungan dan tidak meninggalkan
residu pada tanaman dan produk.
12
sterilisasi menggunakan panci bertekanan
adalah setengah jam dengan
suhu 1150C, dan bila menggunakan
dandang, media dikukus
sekitar 2 jam.
Media steril selanjutnya dituang
ke dalam cawan petri steril secara
aseptik (suci hama) di atas
lampu spiritus pada ruangan yang
bersih dan tertutup. Setiap cawan
petri diisi ±10 ml media.
Hifa/konidia dari serangga terinfeksi
diambil dengan menggunakan
jarum ose steril, lalu dipindahkan
ke media dalam cawan petri
dan dibiarkan selama ±1 minggu.
Selanjutnya dilakukan uji Postulat
Koeh dengan cara menginokulasi
serangga sehat dengan cendawan
dari media biakan. Bila serangga
sehat tadi mati dengan menunjukkan
gejala yang sama seperti pada
serangga terinfeksi, berarti cendawan
yang diinginkan telah didapatkan.
Untuk memastikan bahwa
cendawan yang diperoleh adalah B.
bassiana, perlu dilakukan identifikasi
oleh institusi penelitian atau
perguruan tinggi, karena umumnya
identifikasi merupakan proses yang
panjang dan memerlukan keahlian
khusus.
Pembiakan B. bassiana Secara
Massal
B. bassiana dapat dikembangbiakkan
dengan peralatan dan bahan
yang sederhana, seperti jagung giling/
beras, panci bertekanan/dandang,
lampu spiritus, jarum ose, dan
kantong plastik tahan panas. Perbanyakan
massal dimulai dengan
membuat starter pada media jagung
giling/beras. Jagung giling/
beras ditimbang kemudian dicuci
bersih dan ditiriskan. Setelah itu dimasukkan
ke dalam kantong plastik
tahan panas, lalu dikukus dan didinginkan.
Setelah dingin, jagung/
beras diinokulasi dengan B. bassiana
lalu dimasukkan ke dalam kantong
plastik dan ditutup rapat. Setelah
±12 hari starter siap digunakan.
Pada proses inokulasi, alat-alat
yang digunakan harus dalam keadaan
steril. Pemindahannya pun harus
dilakukan di atas api (lampu spiritus)
dalam ruang tertutup. Sterilisasi
alat dapat dilakukan dengan
cara direbus.
Perbanyakan massal dilakukan
dengan proses yang sama seperti
pembuatan starter, hanya saja inokulasi
tidak menggunakan isolat
murni tetapi menggunakan starter
inokulum dengan perbandingan 1 bagian
starter untuk 10 bagian media
perbanyakan (jagung giling/beras
steril). Pembiakan massal cendawan
B. bassiana mirip dengan penanaman
jamur untuk konsumsi, seperti
jamur kuping dan jamur tiram.
Hasil-hasil Penelitian
Penelitian B. bassiana untuk mengendalikan
tungau pada tanaman
anyelir menunjukkan hasil yang sangat
baik. Populasi tungau mulai
menurun setelah penyemprotan
pertama. Beberapa hari setelah disemprot,
aktivitas makan tungau
menurun dan gerakannya menjadi
lamban. Pada percobaan tersebut
B. bassiana mempunyai efektivitas
yang sama dengan insektisida sintetis
berbahan aktif flufenoksisuron.
Pada tanaman pisang, percobaan
pengendalian hama penggerek
pisang dengan menggunakan B.
bassiana di laboratorium menunjukkan
hasil yang positif. Kematian
kumbang mencapai 60% dalam
waktu 2 minggu setelah inokulasi.
B. bassiana juga efektif mengendalikan
wereng coklat (Nilaparvata
lugens) pada padi, kumbang
gajah (Orchidophillus aterrimus),
dan kumbang mawar Chaedoritus
sp. Kematian serangga hama yang
ditimbulkan B. bassiana berkisar
antara 85-100%.
Balai Penelitian Tanaman Hias
telah mencoba mengemas B. bassiana
dalam formulasi siap pakai.
Dari beberapa formulasi yang dibuat,
Biorama merupakan formulasi
yang siap digunakan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: