Posted by: hendromuntarjo | December 19, 2007

Bantah Telah Lepas Tanaman Transgenik

Departemen Pertanian membantah tudingan secara diam-diam telah
melepaskan tanaman transgenik atau tanaman hasil rekayasa
genetika, untuk dikembangkan secara komersial. Termasuk juga
belum pernah memberikan izin kepada pihak swasta mana pun untuk
mengembangkan tanaman yang dikhawatirkan bakal menimbulkan
dampak negatif yang permanen itu. Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Dr Joko Budianto
mengemukakan hal tersebut, usai membuka Lokakarya Internasional
Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Rekayasa
Genetik, di Jakarta, Selasa (1/2). Lokakarya yang berlangsung
hingga Rabu (2/2) ini diselenggarakan Perhimpunan Bioteknologi
Pertanian Indonesia (ISAB).

“Sampai sekarang Menteri Pertanian selaku Ketua Badan Benih
Nasional belum pernah melepas varietas transgenik,” kata Dr Joko
Budianto menangkis pertanyaan wartawan. Penanganan tanaman
transgenik di Indonesia sampai saat ini masih terbatas pada uji coba
di rumah kaca terbatas, yang dilakukan oleh Litbang Deptan.

Menurut pihak Deptan, pelepasan varietas baru harus melalui Badan
Benih Nasional. Hal ini diatur melalui Undang-Undang (UU) Nomor 12
Tahun 1992 tentang budidaya tanaman. Namun demikian, Joko
Budianto tidak tahu persis ancaman hukuman yang akan dikenakan
apabila terbukti ada pelanggaran undang-undang itu.

Sementara ini masyarakat, terutama lembaga swadaya masyarakat
(LSM) mengisyaratkan adanya pengembangan tanaman transgenik
untuk jagung dan kapas di Indonesia. Pengembangan secara
diam-diam ini banyak dikecam oleh pihak LSM, yang sampai
sekarang terus berusaha mencari informasi lokasi yang digunakan.

Baru litbang

“Setiap pelepasan varietas baru harus ada izin dari Departemen
Pertanian, dan sampai sekarang Menteri Pertanian belum pernah
menandatangani masalah ini. Tentu saja ini dimaksudkan supaya
tidak merugikan masyarakat,” kata Joko Budianto.

Bagaimanapun, menurut dia, untuk melepaskan varietas transgenik
harus memenuhi prosedur keamanan hayati dan pangan produk
rekayasa genetik. Lokakarya yang membahas masalah keamanan
ini terutama untuk mencari masukan kepada pihak pemerintah,
terutama dari sisi pandang ilmiahnya.

Pengembangan tanaman transgenik, menurut Joko Budianto, sampai
sekarang masih dilakukan di tingkat litbang. Baik itu menyangkut
produk dari luar negeri maupun produk dalam negeri yang sampai
sekarang sudah berhasil dikerjakan baik oleh Deptan, maupun
lembaga lain seperti Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) maupun Badan Penelitian,
Pengembangan dan Teknologi (BPPT).

“Tentu saja kalau nanti sudah semua sudah sepakat, baru akan
disebarluaskan ke seluruh Tanah Air. Semuanya masih dalam taraf
percobaan, dan di Indonesia pengembangan secara komersial belum
ada,” kata Budianto.

Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ini juga
menyadari masih tingginya pro dan kontra terhadap masalah ini.
Dan, upaya yang dilakukan pihaknya sekarang adalah mencermati
segi-segi positif dan negatifnya.

Budianto mengumpamakan, pengembangan tanaman transgenik ini
dengan Internet; meskipun banyak manfaat, namun ada segi
negatifnya yaitu seperti penyebaran pornografi yang tidak bisa
dibatasi. “Kalau ada orang yang memasukkan benih tanaman
transgenik secara diam-diam di sakunya, ini sama halnya orang
membawa VCD porno atau narkoba (narkotika dan obat-obat
berbahaya-Red) yang melanggar hukum,” katanya.

Sementara selama ini LSM lebih menakutkan dampak tanaman
transgenik akan permanen, tidak seperti pemakaian bahan kimia.
Dampak pada pemakaian bahan kimia pembasmi hama akan hilang
apabila pemakaian obat-obatan kimia itu dihentikan, sementara tidak
demikian dengan rekayasa genetika.

Pengamatan para pakar lain juga menyebutkan, pelepasan tanaman
transgenik di alam jadi mengkhawatirkan, karena ada kemungkinan
lepasnya gen asing yang disisipkan ke tanaman ke organisme yang
masih sekerabat, mengubah tatanan ekologi atau mengganggu
kesehatan manusia dan ternak, akibat adanya sifat-sifat unggul pada
tanaman transgenik. Serbuk sari kubis yang diberi gen ketahanan
terhadap herbisida ternyata membuahi gulma, burung pemakan
serangga di kebun tanaman transgenik menurun kemampuan
reproduksinya, dan tanaman jagung yang disisipi gen antiserangga
dari bacillus menurunkan daya hidup serangga sekitar kebun. (awe)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: