Posted by: hendromuntarjo | January 30, 2008

Pembuatan Tempe

Langsung ke: navigasi, cari

Sepotong tempe yang belum dimasak.

Sepotong tempe yang belum dimasak.

Tempe adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang rhizopus (“ragi tempe”). Selain itu, terdapat pula makanan serupa tempe yang tidak berbahan kedelai yang juga disebut tempe.

Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.

Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia jamur yang menghubungkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang kompak. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi pembuatan tempe membuat tempe memiliki rasa khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.

Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Terutama kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menemukan tempe sebagai pengganti daging. Dengan ini sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia.

Namun demikian, beberapa negara maju berlomba-lomba membuat varian dan mempatenkan tempe. Hal tersebut dikhawatirkan dapat mengancam keberadaan tempe dari makanan rakyat menjadi sumber komoditi yang bersifat monopoli pemegang lisensi.

 

//

Sejarah dan perkembangan

Tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai. Namun demikian, makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 telah ditemukan kata tempe, misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Hal ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa—mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.[1]

Kata “tempe” diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.[2]

Selain itu terdapat rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda. Sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan, seperti singkong, ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji1 kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.

Tempe dikenal oleh masyarakat Eropa melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh para imigran dari Indonesia.

Melalui Belanda, tempe telah populer di Eropa sejak tahun 1946. Pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Tiongkok, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.[3]

Pada tahun 1940-an dilakukan usaha untuk memperkenalkan tempe ke Zimbabwe sebagai sumber protein yang murah. Namun demikian, usaha ini tidaklah berhasil karena masyarakat setempat tidak memiliki pengalaman mengkonsumsi makanan hasil fermentasi kapang.

Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.

Perhatian yang begitu besar terhadap tempe sebenarnya telah dimulai sejak zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Pada saat itu, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Menurut Onghokham, dengan adanya tempe dan kandungan gizi yang dimilikinya, serta harga yang sangat terjangkau, menyelamatkan masyarakat miskin dari malagizi (malnutrition).

Khasiat dan Kandungan Gizi Tempe

Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.

Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.

Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.

Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut).

Mutu gizi tempe yang tinggi memungkinkan penambahan tempe untuk meningkatkan mutu serealia dan umbi-umbian. Hidangan makanan sehari-hari yang terdiri dari nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat mutu gizinya bila ditambah tempe.

Sepotong tempe goreng (50 gram) sudah cukup untuk meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. Bahan makanan campuran beras-tempe, jagung-tempe, gaplek-tempe, dalam perbandingan 7:3, sudah cukup baik untuk diberikan kepada anak balita.

Asam Lemak

Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.

Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.

Vitamin

Dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).

Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati (sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe; vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.

Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

Mineral

Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.

Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.

Antioksidan

Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.

Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.

Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini.

Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Cara pembuatan

  1. Biji kedelai yang telah dipilih/dibersihkan dari kotoran, dicuci dengan air yang bersih selama 1 jam.
  2. Setelah bersih, kedelai direbus dalam air selama 2 jam.
  3. Kedelai kemudian direndam 12 jam dalam air panas/hangat bekas air perebusan supaya kedelai mengembang.
  4. Berikutnya, kedelai direndam dalam air dingin selama 12 jam.
  5. Setelah 24 jam direndam seperti pada butir 3 dan butir 4 di atas, kedelai dicuci dan dikuliti (dikupas).
  6. Setelah dikupas, kedelai direbus untuk membunuh bakteri yang kemungkinan tumbuh selama perendaman.
  7. Kedelai diambil dari dandang, diletakkan di atas tampah dan diratakan tipis-tipis. Selanjutnya, kedelai dibiarkan dingin sampai permukaan keping kedelai kering dan airnya menetes habis.
  8. Sesudah itu, kedelai dicampur dengan laru (ragi 2%) guna mempercepat/merangsang pertumbuhan jamur. Proses mencampur kedelai dengan ragi memakan waktu sekitar 20 menit. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu keberhasilan dalam membuat tempe kedelai.
  9. Bila campuran bahan fermentasi kedelai sudah rata, campuran tersebut dicetak pada loyang atau cetakan kayu dengan lapisan plastik atau daun yang akhirnya dipakai sebagai pembungkus. Sebelumnya, plastik dilobangi/ditusuk-tusuk. Maksudnya ialah untuk memberi udara supaya jamur yang tumbuh berwarna putih. Proses percetakan/pembungkus memakan waktu 3 jam. Daun yang biasanya buat pembungkus adalah daun pisang atau daun jati. Ada yang berpendapat bahwa rasa tempe yang dibungkus plastik menjadi “aneh” dan tempe lebih mudah busuk (dibandingkan dengan tempe yang dibungkus daun).
  10. Campuran kedelai yang telah dicetak dan diratakan permukaannya dihamparkan di atas rak dan kemudian ditutup selama 24 jam.
  11. Setelah 24 jam, tutup dibuka dan campuran kedelai didinginkan/diangin-anginkan selama 24 jam lagi. Setelah itu, campuran kedelai telah menjadi tempe siap jual.
  12. Supaya tahan lama, tempe yang misalnya akan menjadi produk ekspor dapat dibekukan dan dikirim ke luar negeri di dalam peti kemas pendingin.
  • Proses membekukan tempe untuk ekspor adalah sbb. Mula-mula tempe diiris-iris setebal 2-3 cm dan di-blanching, yaitu direndam dalam air mendidih selama lima menit untuk mengaktifkan kapang dan enzim. Kemudian, tempe dibungkus dengan plastik selofan dan dibekukan pada suhu 40°C sekitar 6 jam. Setelah beku, tempe dapat disimpan pada suhu beku sekitar 20°C selama 100 hari tanpa mengalami perubahan sifat penampak warna, bau, maupun rasa.

Tempe non-kedelai

Selain tempe berbahan dasar kacang kedelai, terdapat pula berbagai jenis makanan berbahan non-kedelai yang juga disebut tempe. Terdapat dua golongan besar tempe menurut bahan dasarnya, yaitu tempe berbahan dasar legume dan tempe berbahan dasar non-legume.[4]

Tempe berbahan dasar legume mencakup tempe kacang kedelai, tempe koro benguk (dari biji koro benguk, Mucuna pruriens L.D.C. var. utilis, berasal dari sekitar Waduk Kedung Ombo), tempe gude (dari kacang gude, Cajanus cajan), tempe gembus (dari ampas kacang gude pada pembuatan pati, populer di Lombok dan Bali bagian timur), tempe kacang hijau (dari kacang hijau, terkenal di daerah Yogyakarta), tempe kacang kecipir (dari kacang kecipir, Psophocarpus tetragnolobus), tempe koro pedang (dari Canavalia ensiformis), tempe lupin (dari lupin, Lupinus angustifolius), tempe kacang merah (dari kacang merah, Phaseolus vulgaris), tempe kacang tunggak (dari kacang tunggak, Vigna unguiculata), tempe kara wedus (dari Lablab purpures), tempe kara (dari kara kratok, Phaseolus lunatus, banyak ditemukan di Amerika Utara), dan tempe menjes (dari kacang tanah dan kelapa, terkenal di sekitar Malang).

Tempe berbahan dasar non-legume mencakup tempe mungur (dari biji mungur, Enterolobium samon), tempe bongkrek (dari bungkil kapuk atau ampas kelapa, terkenal di daerah Banyumas), tempe garbanzo (dari ampas kacang atau ampas kelapa, banyak ditemukan di Jawa Tengah), tempe biji karet (dari biji karet, ditemukan di daerah Sragen, jarang digunakan untuk makanan), dan tempe jamur merang (dari jamur merang).

Posted by: hendromuntarjo | January 17, 2008

Minuman sehat lidah buaya, obat jerawat yang mujarab

Tanaman lidah buaya buanyaak banget terdapat di lingkungan sekitar kamu. Tanaman ini banyak tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Karena tanaman ini mudah didapat dan terbukti memiliki khasiat untuk kecantikan dan kesehatan ga ada salahnya kalau kita manfaatkan untuk pengobatan jerawat kita yang udah kronis banget. Betul ga? Untuk kamu yang jerawatnya biasa-biasa aja atau malah ga punya jerawat tetep bikin minuman ini. Soalnya menurut Dra Erlin Nurtiyani MSi, peneliti dan dosen dari FMIPA Universitas Indonesia, di dalam daging Aloe Vera terdapat 200 kandungan berbeda yang sangat berguna bagi manusia.

Bu Erlin menyebutkan, manfaat lidah buaya sudah dibuktikan sejak empat ribu tahun lampau. Konon, Ratu Cleopatra dan Raja Aleksander Agung pun sering mengonsumsi minuman lidah buaya. “Minuman lidah buaya merupakan minuman eksklusif ratu dan raja,” katanya. Wah minuman kebangsaan nih. Begitu hebatnya khasiat lidah buaya, sehingga tumbuhan yang tepian daunnya berduri serta berdaging lembut itu sering disebut ‘Tanaman Ajaib yang Serba Guna’.

“Bahkan hasil penelitian yang dilakukan ilmuwan asal Amerika Serikat menyebutkan bahwa dalam Aloevera barbadensis miller terdapat beberapa zat yang bisa berfungsi sebagai antioksidan,” ujarnya. Antioksidan itu berguna untuk mencegah penuaan dini, serangan jantung, dan beberapa penyakit degeneratif.

Lidah buaya mengandung aloin, barbaloin, isobarbaloin, aloeomodin, aloenin, aloesin dan lain-lain. Sedangkan khasiat lidah buaya antara lain: menyuburkan dan menghitamkan rambut, sebagai pembersih muka, mengatasi jerawat, mengatasi flek hitam, mengatasi ambeien, rematik, diabetes, dan lain lain.

Gel lidah buaya memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antijamur, meningkatkan aliran darah ke daerah yang terluka, dan menstimulasi fibroblast, yaitu sel-sel kulit yang bertanggung jawab untuk penyembuhan luka. Publikasi pada American Podiatric Medical Association menunjukkan bahwa pemberian gel aloe pada hewan percobaan, baik dengan cara diminum maupun dioleskan pada permukaan kulit, dapat mempercepat penyembuhan luka. Menarik nih.

Nah, sekarang cara untuk membuat minuman segar dari daging lidah buaya. Pertama kali kamu harus mempersiapkan daun lidah buaya (iyalah kita kan bikin minuman lidah buaya), trus jeruk nipis, garam dapur, dan gula pasir. Pilih daun yang cukup umur dan tebal. Ciri-cirinya daun ini berwarna hijau tua, bagian tepi daun berduri lunak dan pucat. Cuci bersih daun lidah buaya, kupas kulit daun hijaunya sehingga kelihatan daging buah yang bening segar. Potong daging itu seukuran kubus kecil, jangan kekecilan nanti capek sendiri. Cuci dengan air hingga lendirnya hilang, lalu bilas dengan air bersih.

Kalau kurang bersih nanti kamu sendiri yang bakal ngerasain pahit getirnya lendir lidah buaya. Ga mau kan? Makanya cuci sampe bersih. Didihkan air, masukkan potongan daging lidah buaya, diamkan selama 10 menit. Sesudah itu matikan kompor agar daging lidah buaya tidak lembek. Rendam daging lidah buaya dalam larutan yang terbuat dari satu liter air matang, kemudian tambahkan satu sendok makan perasan jeruk nipis.

Bilas potongan daging daun lidah buaya tadi dengan air matang, lalu tambahkan larutan gula. Simpan selama 2-3 jam di dalam kulkas. Setelah dingin paling enak untuk dimakan. Untuk teman kamu sambil nonton TV. Asik kan bisa bikin minuman enak plus sehat sendiri. Gampang lagi cara bikinnya. Tunggu apalagi. Selamat mencoba.Semoga kita menjadi tambah sehat lagi. Oke

Posted by: hendromuntarjo | January 17, 2008

HAMA/PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KAKAO DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

GEJALA SERANGAN a. Penggerek buah kakao (PBK)
Conopomorpha cramerella
Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.

b. Kepik penghisap buah (Helopeltis spp)
Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.

c. Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora)
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.

METODE PENGENDALIAN

Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut terutama dilakukan dengan sistem PHT (pengendalian hama terpadu).
• Hama penggerek buah.
Pengendaliannya dilakukan dengan : (1) karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK; 2) pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen; (3) mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam; (4) penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.; (5) cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

• Hama helopeltis
Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.

• Penyakit busuk buah.
Dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu: (1) sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm; (2) kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun; (3) cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti :Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali; (4) penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon DRC 16, Sca 6,ICS 6 dan hibrida DR1.

Posted by: hendromuntarjo | January 17, 2008

Pengendalian JAP pada tanaman karet

Karet merupakan komoditas ekspor utama Sumatera Barat, dan sebagian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Jamur akar putih (JAP) menjadi penyakit utama tanaman karet yang dapat mengakibatkan penurunan produksi 20-60%. Tahun 1997 tercatat luas serangan 5.090 ha dengan nilai kerugian Rp 3,8 millyar. Cendawan Trichoderma koningii (TK) bersifat antagonis dengan JAP mampu bertahan lama di alam

Pengendalian JAP menggunakan TK dapat mengembalikan produksi secara normal, tidak mencemari lingkungan, cara aplikasi murah dan tidak mencemari lingkungan. Teknis pelaksanaan pengendalian dilakukan dengan urutan berupa: deteksi serangan JAP pada tanaman karet, perbanyakan TK untuk pengendalian, aplikasi TK kepertanaman, dan evaluasi terhadap hasil aplikasi

Teknis pelaksanaan

Mendeteksi serangan JAP pada tanaman karet

  • Menutup pangkal batang tanaman dengan mulsa pada awal musim hujan atau akhir musim hujan

  • Lakukan pengamatan 2-3 minggu setelah pemberian mulsa

  • Tanaman yang terserang JAP akan terlihat ada miselia berwarna putih yang menempel pada pangkal akar

Perbanyakan TK

  • Menggunakan media dedak pupuk dengan perbandingan 4:1

  • Bahan dikemas dalam kantong plastik dan dikukus selama 2 jam

  • Setelah dikukus dihamparkan pada rak-rak kayu yang telah disiapkan dan ditutup dengan plastik untuk menghindari kontaminasi

  • Setelah dingin, tutup plastik dibuka sedikit ditambahkan 10 gram belerang untuk 10 kg media

  • Tutup kembali plastik, media sudah ditumbuhi TK 3 hari kemudian

 

Aplikasi TK ke lapangan

  • Bersihkan tanah sekitar pangkal akar dengan radius 50-70 cm

  • Taburkan jamur TK dengan dosis 100 g/pohon (tanaman berumur <4 tahun) dan 200 g/pohon (tanam berumur >4 tahun)

  • Penaburan pada pagi hari sebelum pukul 10.00 WIB dan sore hari sesudah pukul 16.00 WIB, pelaksanaannya pada musim hujan

  • Setelah penaburan TK, ditutup dengan tanah

  • Setelah aplikasi, tanaman dipupuk dengan 200 g NPK/pohon

  • Tanaman yang terserang berat tidak dapat dikendalikan dengan TK tapi langsung dibongkar dan dibakar serta diberi parit isolasi

Evaluasi

  • Lakukan pengamatan pada tanaman 3 bulan setelah aplikasi

  • Untuk memudahkan pengamatan dilakukan pemulsaan ulang selama 2-3 minggu

  • Bila misellia yang menempel pada akar berwarna putih telah hilang, penyembuhan telah terjadi

Sumber : balai pengkajian teknologi pertanian sum-bar

Posted by: hendromuntarjo | January 17, 2008

Beauveria bassiana pengendali hama tanaman

Untuk menyambung kembali
mata rantai keseimbangan
alam pada ekosistem pertanian
yang sempat hilang karena penanganan
hama yang tidak ramah
lingkungan, pemerintah mengembangkan
konsep pengendalian hama
terpadu (PHT) yang berwawasan
lingkungan. Pada konsep pengendalian
ini, pestisida masih dapat
digunakan untuk mengendalikan
hama, tetapi penggunaannya dibatasi
hanya pada saat serangan hama
tidak dapat ditoleransi lagi atau
yang disebut dengan batas ambang
ekonomi. Pengendalian hama diutamakan
dilakukan secara biologis
dengan menggunakan musuh alami.
Musuh alami dapat berupa predator,
parasitoid atau patogen. Predator
adalah serangga pemangsa
hama. Umumnya predator memiliki
tubuh yang lebih besar daripada
serangga yang dimangsanya. Parasitoid
adalah serangga yang menjadi
parasit pada serangga lain.
Parasitoid memiliki tubuh yang lebih
kecil dari mangsanya, dan dapat
hidup di dalam telur, di luar atau di
dalam larva maupun imago serangga.
Patogen adalah organisme yang
dapat menimbulkan penyakit. Patogen
dapat berupa cendawan/
jamur, bakteri, virus, dan lain-lain.
Cendawan patogen tumbuh pada
permukaan tubuh serangga dan dapat
masuk ke dalam tubuh serangga
melalui bagian tubuh yang paling
mudah ditembus, seperti membran
antarruas dan lubang alami pada
tubuh serangga seperti spirakel,
mulut, dan anus.
Beberapa patogen dari jenis
cendawan yang digunakan untuk
mengendalikan hama adalah Beauveria
bassiana, Metarhizium anisopliae,
dan Spicaria sp. B. bassiana
banyak digunakan dalam pengendalian
hama penggerek buah kopi
(Hyphotenemus hampei), kepik
pengisap pada teh dan kakao (Helopeltis
sp.), ulat pada tongkol jagung
(Hebothis sp.) dan lain-lain. M.
anisopliae digunakan untuk mengendalikan
kumbang kelapa (Oryctes
sp.), sedangkan Spicaria sp.
untuk kepik pengisap pada teh dan
kakao.
B. bassiana merupakan cendawan
entomopatogen, yaitu cendawan
yang dapat menimbulkan penyakit
pada serangga. Secara garis
besar, cendawan terdiri atas hifa
dan konidia. Hifa berupa benang
halus, sedangkan konidia berupa
butiran yang berukuran mikroskopis.
Dalam jumlah banyak, hifa dan
konidia dapat dilihat dengan mata
telanjang. Hifa B. bassiana dapat
masuk ke dalam tubuh serangga
dan berkembang di dalamnya kemudian
merusak saluran makanan
serta sistem pernafasan sehingga
menyebabkan kematian. Pada keadaan
lingkungan yang mendukung
perkembangan cendawan, bagian
luar tubuh serangga yang terserang
B. bassiana akan dipenuhi oleh hifa
dan konidia yang berwarna putih.
Konidia yang berukuran sangat kecil
dan ringan siap untuk berpindah
dan menginfeksi serangga lain dengan
bantuan angin, air atau serangga.
Efektivitas B. bassiana dalam
mengendalikan hama banyak mendapat
perhatian dari berbagai institusi
penelitian. Berdasarkan informasi,
hampir seluruh propinsi penghasil
kopi di Indonesia telah menggunakannya
untuk mengendalikan
hama penggerek buah kopi. Di Balai
Penelitian Tanaman Hias, penelitian
B. bassiana dilakukan untuk menguji
efektivitasnya maupun mencari
formulasi yang tepat agar mudah
didistribusikan dan diaplikasikan
dengan harga yang terjangkau.
Pembuatan Isolat Murni
B. bassiana
Cendawan B. bassiana dapat diisolasi
dari serangga yang terinfeksi.
Serangga yang terinfeksi
oleh cendawan tersebut mudah dikenali.
Tubuhnya menjadi putih karena
tertutup oleh kumpulan hifa
dan konidia B. bassiana.
Pembuatan isolat murni B.
bassiana diawali dengan membuat
media biakan. Media yang digunakan
dapat berbentuk padat ataupun
cair. Masing-masing media mempunyai
kelebihan dan kekurangan.
Bila menggunakan media padat, setelah
penanaman atau pemindahan
(isolasi) cendawan tidak diperlukan
alat bantu lain, sedangkan bila
menggunakan media cair dibutuhkan
meja penggoyang (shaker).
Media cair menghasilkan populasi
konidia B. bassiana lebih banyak
dan lebih cepat dibanding media
padat. Namun bahan-bahan untuk
membuat media cair lebih sulit
diperoleh dan harganya lebih mahal
daripada media padat.
Bahan yang dibutuhkan untuk
membuat satu liter media padat
(media agar kentang dekstrosa)
adalah air suling (akuades) satu
liter, kentang 200 g, dekstrosa
(gula) 20 g, dan agar 15 g. Kentang
dikupas dan dicuci hingga bersih,
kemudian dipotong kecil-kecil.
Selanjutnya potongan-potongan
kentang direbus dalam akuades
untuk mendapatkan ekstraknya.
Bila air rebusan telah keruh, potongan
kentang dipisahkan dari air
dengan cara menyaringnya. Bila air
rebusan kurang dari satu liter dapat
ditambahkan akuades hingga
volume air menjadi satu liter. Air
rebusan lalu dididihkan dan ditambah
dekstrosa dan agar, kemudian
dimasak hingga agar larut. Media
lalu dimasukkan ke dalam botol
bersih berukuran 100 ml dan ditutup
rapat. Botol-botol berisi media lalu
dimasukkan ke dalam panci bertekanan
atau dandang untuk sterilisasi.
Waktu yang diperlukan untuk
Cendawan B. bassiana dapat digunakan sebagai pengendali hama
tanaman. Selain efektif, pengendalian secara biologis juga
ramah lingkungan dan tidak meninggalkan
residu pada tanaman dan produk.
12
sterilisasi menggunakan panci bertekanan
adalah setengah jam dengan
suhu 1150C, dan bila menggunakan
dandang, media dikukus
sekitar 2 jam.
Media steril selanjutnya dituang
ke dalam cawan petri steril secara
aseptik (suci hama) di atas
lampu spiritus pada ruangan yang
bersih dan tertutup. Setiap cawan
petri diisi ±10 ml media.
Hifa/konidia dari serangga terinfeksi
diambil dengan menggunakan
jarum ose steril, lalu dipindahkan
ke media dalam cawan petri
dan dibiarkan selama ±1 minggu.
Selanjutnya dilakukan uji Postulat
Koeh dengan cara menginokulasi
serangga sehat dengan cendawan
dari media biakan. Bila serangga
sehat tadi mati dengan menunjukkan
gejala yang sama seperti pada
serangga terinfeksi, berarti cendawan
yang diinginkan telah didapatkan.
Untuk memastikan bahwa
cendawan yang diperoleh adalah B.
bassiana, perlu dilakukan identifikasi
oleh institusi penelitian atau
perguruan tinggi, karena umumnya
identifikasi merupakan proses yang
panjang dan memerlukan keahlian
khusus.
Pembiakan B. bassiana Secara
Massal
B. bassiana dapat dikembangbiakkan
dengan peralatan dan bahan
yang sederhana, seperti jagung giling/
beras, panci bertekanan/dandang,
lampu spiritus, jarum ose, dan
kantong plastik tahan panas. Perbanyakan
massal dimulai dengan
membuat starter pada media jagung
giling/beras. Jagung giling/
beras ditimbang kemudian dicuci
bersih dan ditiriskan. Setelah itu dimasukkan
ke dalam kantong plastik
tahan panas, lalu dikukus dan didinginkan.
Setelah dingin, jagung/
beras diinokulasi dengan B. bassiana
lalu dimasukkan ke dalam kantong
plastik dan ditutup rapat. Setelah
±12 hari starter siap digunakan.
Pada proses inokulasi, alat-alat
yang digunakan harus dalam keadaan
steril. Pemindahannya pun harus
dilakukan di atas api (lampu spiritus)
dalam ruang tertutup. Sterilisasi
alat dapat dilakukan dengan
cara direbus.
Perbanyakan massal dilakukan
dengan proses yang sama seperti
pembuatan starter, hanya saja inokulasi
tidak menggunakan isolat
murni tetapi menggunakan starter
inokulum dengan perbandingan 1 bagian
starter untuk 10 bagian media
perbanyakan (jagung giling/beras
steril). Pembiakan massal cendawan
B. bassiana mirip dengan penanaman
jamur untuk konsumsi, seperti
jamur kuping dan jamur tiram.
Hasil-hasil Penelitian
Penelitian B. bassiana untuk mengendalikan
tungau pada tanaman
anyelir menunjukkan hasil yang sangat
baik. Populasi tungau mulai
menurun setelah penyemprotan
pertama. Beberapa hari setelah disemprot,
aktivitas makan tungau
menurun dan gerakannya menjadi
lamban. Pada percobaan tersebut
B. bassiana mempunyai efektivitas
yang sama dengan insektisida sintetis
berbahan aktif flufenoksisuron.
Pada tanaman pisang, percobaan
pengendalian hama penggerek
pisang dengan menggunakan B.
bassiana di laboratorium menunjukkan
hasil yang positif. Kematian
kumbang mencapai 60% dalam
waktu 2 minggu setelah inokulasi.
B. bassiana juga efektif mengendalikan
wereng coklat (Nilaparvata
lugens) pada padi, kumbang
gajah (Orchidophillus aterrimus),
dan kumbang mawar Chaedoritus
sp. Kematian serangga hama yang
ditimbulkan B. bassiana berkisar
antara 85-100%.
Balai Penelitian Tanaman Hias
telah mencoba mengemas B. bassiana
dalam formulasi siap pakai.
Dari beberapa formulasi yang dibuat,
Biorama merupakan formulasi
yang siap digunakan

Posted by: hendromuntarjo | January 17, 2008

Pengendalian hama tikus

Tikus merupakan hama penting yang menimbulkan kerugian bagi tanaman pertanian baik dilapangan maupun hasil pertanian dalam penyimpanan. Jenis tanaman yang sering mendapat serangan hama tikus adalah padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi-ubian.Jenis tikus yang banyak menimbulkan kerugian adalah Rattus Argentiventer (tikus sawah) dan Rattus diardi yang menimbulkan kerusakan hasil dalam simpanan.

Perkembangbiakan tikus sangat cepat, umur 1,5 – 5 bulan sudah dapat berkembangbiak, setelah hamil 21 hari, setiap ekor dapat melahirkan 6-8 ekor anak, 21 hari kemudian pisah dari induknya dan setiap tahun seekor tikus dapat melahirkan 4 kali.

Tikus suka hidup ditempat gelap yang bersemak-semak dari banyak rerumputan didekat sumber makanan.

/B

Dalam pengendalian hama tikus kita menganut konsep pengendalian hama terpadu yaitu sistem pengendalian populasi yang memanfaatkan secara terpadu untuk menurunkan populasi dan mempertahankannya dibawah batas ambang ekonomi.

Untuk memperoleh hasil yang baik dalam pengendalian hama tikus perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Perlu pengorganisasian yang baik
  • Meliputi daerah yang luas
  • Dilaksanakan secara massal
  • Serentak
  • Berulangkali dilakukan sampai populasi dibawah batas yang menyebabkan kerugian ekonomis
  • Perlu disesuaikan dengan keadaan serangan dan phase pertumbuhan tanamanCara-cara yang dilaksanakan dalam PENGENDALIAN HAMA TIKUS
  • Sanitasi Tanaman dan Lingkungan yaitu membersihkan semak-semak dan rerumputan, membongkar liang dan sarang serta tempat perlindungan lainnya.
  • Mekanis
    Meliputi semua cara pengendalian yang secara langsung membunuh tikus dengan pukulan, diburu anjing, menggunakan perangkap dsb.
    Cara ini akan berhasil bila diorganisir dengan baik dan dilakasanakan serentak, sebagai contoh adalah pemasangan perangkap dengan menggunakan bambu dengan panjang antar 1,5 – 2 meter yang salah satu ujungnya dibiarkan tertutup dan ujung lainnya dilubangi.
    Pemasangan dilakukan sore hari ditempat yang biasa dilalui tikus didekat pamatang diharapkan tikus akan masuk lubang dan sembunyi, dan pagi diambil dengan terlebih dahulu ujung yang terbuka dimasukkan karung/plastik, kemudian tikus yang ada dibunuh.
  • Mengatur waktu tanam
    Dengan mengatur waktu tanam, maka waktu tersedianya makanan yang disukai tikus terbatas.
  • Pengendalian Biologis
    Dengan memanfaatkan musuh alami (predator) yang menghambat populasi tikus seperti ular, kucing dll.
  • Penggunaan bahan kimia
    Bahan kimia yang digunakan biasanya adalah Rodentisida seperti Klerat RM dll yang ada dipasaran dan gas beracun (belerang).
    Rodentisida digunakan dengan umpan yang disukai tikus seperti: beras, jagung, ubi kayu dn ubi jalar. Umpan beracun ada 2 jenis, yaitu yang siap pakai seperti; Klerat RM dan Umpan yang dibuat sendiri (umpan + Zink Phosfit).Racun yang dipakai juga ada 2 jenis yaitu:
  • Racun akut yang bekerja cepat, tikus mati 3-14 jam sesudah peracunan, namun dapat menimbulkan jera umpan, contoh zink phosfit. Perbandingan umpan dan racun 99:1
    Dosis penggunaan 10-20 gram umpan/raun per tempat umpan
  • Racun kronis yang bekerjanya lambat, namun tidak menimbulkan jera umpan. Tikus akan mati 2 -14 hari setelah peracunan. Perbandingan umpan racun 19:1.
    Contoh: Klerat RM dosis penggunaan 10-40 per tempat umpan.
    Untuk melindungi umpan dari hujan dan tidak termakan hewan ternak, perlu digunakan tempat umpan yang diletakkan ditepi pematang dekat liang tikus dengan jarak masing-masing tempat 25 meter, dan masing-masing tempat diberi 10-20 gram umpan.
  • Penggunaan gas beracun
    Penggunaan gas beracun akan efektif bila padi dalam stadium bunting dengan menggunakan dioksida belerang yang dihasilkan dengan membakar merang yang telah diberi serbuk belerang didalam alat emposan.
    Asap dan gas yang keluar dihembuskan kedlam liang tikus pada pematang sawah. Sebelumnya lubang-lubang keluar ditutup terlebih dahulu.
    Jadi dengan pengendalian hama tikus melalui berbagai cara yang dilaksanakan secara terpadu, ini diharapkan dapat menekan populasi tikus dilapangan dibawah ambang batas ekonomi yang tidak merugikan bagi petani.
  • Posted by: hendromuntarjo | December 19, 2007

    Bantah Telah Lepas Tanaman Transgenik

    Departemen Pertanian membantah tudingan secara diam-diam telah
    melepaskan tanaman transgenik atau tanaman hasil rekayasa
    genetika, untuk dikembangkan secara komersial. Termasuk juga
    belum pernah memberikan izin kepada pihak swasta mana pun untuk
    mengembangkan tanaman yang dikhawatirkan bakal menimbulkan
    dampak negatif yang permanen itu. Kepala Badan Penelitian dan
    Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Dr Joko Budianto
    mengemukakan hal tersebut, usai membuka Lokakarya Internasional
    Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Rekayasa
    Genetik, di Jakarta, Selasa (1/2). Lokakarya yang berlangsung
    hingga Rabu (2/2) ini diselenggarakan Perhimpunan Bioteknologi
    Pertanian Indonesia (ISAB).

    “Sampai sekarang Menteri Pertanian selaku Ketua Badan Benih
    Nasional belum pernah melepas varietas transgenik,” kata Dr Joko
    Budianto menangkis pertanyaan wartawan. Penanganan tanaman
    transgenik di Indonesia sampai saat ini masih terbatas pada uji coba
    di rumah kaca terbatas, yang dilakukan oleh Litbang Deptan.

    Menurut pihak Deptan, pelepasan varietas baru harus melalui Badan
    Benih Nasional. Hal ini diatur melalui Undang-Undang (UU) Nomor 12
    Tahun 1992 tentang budidaya tanaman. Namun demikian, Joko
    Budianto tidak tahu persis ancaman hukuman yang akan dikenakan
    apabila terbukti ada pelanggaran undang-undang itu.

    Sementara ini masyarakat, terutama lembaga swadaya masyarakat
    (LSM) mengisyaratkan adanya pengembangan tanaman transgenik
    untuk jagung dan kapas di Indonesia. Pengembangan secara
    diam-diam ini banyak dikecam oleh pihak LSM, yang sampai
    sekarang terus berusaha mencari informasi lokasi yang digunakan.

    Baru litbang

    “Setiap pelepasan varietas baru harus ada izin dari Departemen
    Pertanian, dan sampai sekarang Menteri Pertanian belum pernah
    menandatangani masalah ini. Tentu saja ini dimaksudkan supaya
    tidak merugikan masyarakat,” kata Joko Budianto.

    Bagaimanapun, menurut dia, untuk melepaskan varietas transgenik
    harus memenuhi prosedur keamanan hayati dan pangan produk
    rekayasa genetik. Lokakarya yang membahas masalah keamanan
    ini terutama untuk mencari masukan kepada pihak pemerintah,
    terutama dari sisi pandang ilmiahnya.

    Pengembangan tanaman transgenik, menurut Joko Budianto, sampai
    sekarang masih dilakukan di tingkat litbang. Baik itu menyangkut
    produk dari luar negeri maupun produk dalam negeri yang sampai
    sekarang sudah berhasil dikerjakan baik oleh Deptan, maupun
    lembaga lain seperti Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Lembaga
    Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) maupun Badan Penelitian,
    Pengembangan dan Teknologi (BPPT).

    “Tentu saja kalau nanti sudah semua sudah sepakat, baru akan
    disebarluaskan ke seluruh Tanah Air. Semuanya masih dalam taraf
    percobaan, dan di Indonesia pengembangan secara komersial belum
    ada,” kata Budianto.

    Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ini juga
    menyadari masih tingginya pro dan kontra terhadap masalah ini.
    Dan, upaya yang dilakukan pihaknya sekarang adalah mencermati
    segi-segi positif dan negatifnya.

    Budianto mengumpamakan, pengembangan tanaman transgenik ini
    dengan Internet; meskipun banyak manfaat, namun ada segi
    negatifnya yaitu seperti penyebaran pornografi yang tidak bisa
    dibatasi. “Kalau ada orang yang memasukkan benih tanaman
    transgenik secara diam-diam di sakunya, ini sama halnya orang
    membawa VCD porno atau narkoba (narkotika dan obat-obat
    berbahaya-Red) yang melanggar hukum,” katanya.

    Sementara selama ini LSM lebih menakutkan dampak tanaman
    transgenik akan permanen, tidak seperti pemakaian bahan kimia.
    Dampak pada pemakaian bahan kimia pembasmi hama akan hilang
    apabila pemakaian obat-obatan kimia itu dihentikan, sementara tidak
    demikian dengan rekayasa genetika.

    Pengamatan para pakar lain juga menyebutkan, pelepasan tanaman
    transgenik di alam jadi mengkhawatirkan, karena ada kemungkinan
    lepasnya gen asing yang disisipkan ke tanaman ke organisme yang
    masih sekerabat, mengubah tatanan ekologi atau mengganggu
    kesehatan manusia dan ternak, akibat adanya sifat-sifat unggul pada
    tanaman transgenik. Serbuk sari kubis yang diberi gen ketahanan
    terhadap herbisida ternyata membuahi gulma, burung pemakan
    serangga di kebun tanaman transgenik menurun kemampuan
    reproduksinya, dan tanaman jagung yang disisipi gen antiserangga
    dari bacillus menurunkan daya hidup serangga sekitar kebun. (awe)

    Categories

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.